MAULID SIMTHUD DUROR (MAULID AL HABSYI)
PASAL KE 1
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Segala puji bagi Allah, yang amat teguh kekuasaan-Nya. Amat jelas
bukti-bukti kebenaran-Nya. Terbentang luas kedermawanan dan kemurahan-Nya.
Mahatinggi kemuliaan-Nya, Mahaagung kedudukan-Nya.
Diciptakan segalanya dengan penuh hikmah. Lalu
diliputinya dengan ilmu-NYa. Dihamparkan bagi mereka limpahan karunia-Nya.
Denqan kadar pembagian yang ditentukan dalam kehendak-Nya. Maka diutus kepada
mereka, demi rahmat-Nya. seorang termulia di antara makhluk-Nya. terkemuka di
antara hamba-hamba-Nya.
lradah-Nya yang azali menghendaki, Mencipta hamba yang
amat dikasihi ini. Maka tersebarlah pancaran kemuliaannya. Di alam nyata
ataupun tersembunyi.
Aduhai, betapa agung anugerah ini. Dilimpahkan oleh
Dia Yang Maha Pemurah, Maha Pemberi. Betapa tinggi nilai keutamaan ini. Datang
dari Tuhan Sumber segala ihsan. Karunia teramat sempurna. Dalam bentuk insan
terpuji. Kehadirannya mengharumi segenap penjuru. Menghiasnya dengan sulaman
indah penuh keagungan.
PASAL KE 2
Allah Mahabenar bertajalli. Dalam alam kudus-Nya yang
amat luas. Menetapkan penyebaran anugerah-Nya. Pada yang dekat dan jauh tak
terkecuali.
Maka hanya bagi-Nya segala puji. Tiada terhingga
bilangannya. Tiada menjemukan pengulangan sebutannya. Betapapun sering diulang-ulang.
Atas perkenan-Nya menampilkan di alam kenyataan. Perwujudan semulia-mulia
insan. Agar seluruh makhluk beroleh kemuliaan. Tiada terhingga. Dengan rahasia
keutamaan yang mengiringi kehadirannya. Tersebar merata di seluruh alam
semesta.
Maka tiada satu pun rahasia itu. Menyentuh menyatu
dengan qalbu yang sadar. Kecuali pasti karena curahan karunia Allah. Melalui
insan tersayang ini.
Bahagia dan suka ria, berdatangan merasuki qalbu,
menyambut datangnya kekasih Allah, pembawa anugerah bagi seluruh manusia.
Maha Agung Dia yang telah memuliakan, wujud ini dengan
nur berkilauan, meliputi semuanya, dengan keriangan dan kecantikan.
Mencapai tingkat keindahan tertinggi, menjulang
mengangkasa, dengan kemuliaannya.
Mata memandang penuh damba, bentuk insan sempurna,
pengikis segala yang sesat.
Meski sesungguhnya. keluhuran dan kesempurnaannya.
melampaui segala yang bisa dicapai.
PASAL KE 3
Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah. Maha Esa,
tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian terucapkan dengan lisan. Mengungkap ketulusan
dan kepatuhan. Yang terkandung dalam hati sanubari. Memperteguh tonggak-tonggak
iman. Yang tertanam jauh di dalam dada. Rahasia hakikatnya tampak hanya bagi
mereka. Yang tulus patuh tiada sedikit pun ragu padanya.
Dan aku bersaksi bahwasannya. Sayyidina Muhammad
adalah hamba Allah. Yang benar dalam ucapan dan perbuatannya. Dan menyampaikan
atas nama Allah. Apa yang harus disampaikan.
Kepada hamba-hamba-Nya. Tentang yang diwajibkan atau
yang dianjurkan-Nya. Dialah hamba Allah yang diutus. Kepada penghuni alam
seluruhnya. Pembawa berita gembira di samping ancaman derita. Maka ia pun
menyampaikan risalah. Dan menunaikan amanah. Sehingga umat dalam jumlah besar.
Beroleh hidayah Allah dengan perantaraannya.
Jadilah ia pelita penerang dan bulan purnama. Bagi pencari
cahaya penembus kejahilan gelap gulita
Aduhai, betapa agung karunia Allah. dilimpahkan atas
manusia. Betapa luas nikmat Allah bertebaran hikmahnya. Di lautan dan daratan
luas merata.
Ya Allah, ya Tuhan kami. Limpahkan shalawat dan salam.
Yang terbesar dan mencakup segalanya. Teramat suci, luas jangkauannya. Atas
diri insan ini. Yang dengan seksama memenuhi kewajiban perhambaan pada
Tuhannya. Dengan menyandang segala sifat sempurna. Dan bersungguh-sungguh dalam
berbakti kepada llahi. Serta menghadapkan diri kepada-Nya. Dengan sebaik dan
sesempurna cara.
Shalawat rahmat yang mengukuhkan. Jalinan ikatan
dengan pribadinya. Bagi si pembaca shalawat atas dirinya. Menjadikan hatinya
terang benderang. Tersentuh nur kecintaan dan kerinduan padanya. Dan
memasukkannya dengan inayah Allah. ke dalam kelompoknya.
Demikian pula atas segenap keluarganya. Sefta para
sahabatnya. Yang menduduki puncak derajat yang tinggi. Karena dekat kepadanya.
Dan bernaung di bawah bayangbayang kemuliaan sejati.
Dengan mencintainya sepenuh hati.
Shalawat dan salam terus-menerus tiada hentinya.
Selama hembusan angin mengharumi mayapada. Menyebar sebutan indah mereka
semuanya.
PASAL KE 4
Amma ba'du.
Manakala iradat Allah dalam ilmu-Nya yang qadim.
Berkenan menampakkan inti kekhususan, bagi manusia yang mulia. Dengan keutamaan
dan penghormatan. Terwujudlah dengan kodrat gemilang. Nikmat llahiyang luas
merata. Serta anugerah-Nya yang melimpah ruah.
Maka terkuaklah karsa cipta-Nya. Di alam mutlak tiada
berbatas. Menyingkap “keindahan” disaksikan pandangan mata. Mencakup segala
sifat keindahan dan keelokan sempurna
Dan berpindah-pindahlah ia dengan segala keberkahan.
Dalam sulbi-sulbi dan rahim-rahim yang mulia. Tiada satu pun sulbi yang
merangkumnya. Kecuali beroleh nikmat Allah nan sempurna. Laksana bulan purnama.
Berpindah-pindah dalam orbitnya. Agar setiap tempat yang didiaminya. Ataupun
jalan yang dilaluinya. Meraih kemuliaan tiada terhingga.
Demikianlah ditetapkan dalam suratan takdir azali.
Menampakkan rahasia nur ini. Hanya dalam diri mereka. Yang beroleh kekhususan
dan keistimewaan. Sehingga tiap kediamannya. Selalu dalam sulbi-sulbi megah dan
anggun. Serta rahim-rahim yang suci bersih.
Sampai tiba saat ia datang ke alam nyata. Sebagai
manusia, tiada sama dengan manusia biasa. Bagaikan nur cahaya benderang.
Penampilannya mencengangkan akal dan pikiran.
Maka tergeraklah jiwa dan semangat penulis ini.
Mencatat apa yang sampai kepadanya. Tentang keajaiban nur mulia ini.
Meski lidah tak’kan mampu mengungkap sifat-sifatnya
walaupun sekelumit atau lebih sedikit.
Tapi sekadar penawar hati para pendengar. Yang
termasuk kalangan khusus di antara kaum mukminim. Dan penghibur mereka yang
terpaut hatinya. Pada pesona nur Yang terang ini.
Sebab bagaimana mungkin. Pena para penulis mampu
melukis. Tentang segala sesuatu yang bersangkutan. Dengan manusia Paling utama.
Di antara manusia seluruh-Nya.
Namun hatiku tergerak. Menuliskan yang kuhafal selama
ini. Tentang riwayat hidup manusia termulia. Di antara makhluk semuanya. Juga
tentang karunia agung yang dilimpahkan Allah. Pada peristiwa kelahirannya. Yang
meliputi seluruh penghuni alam semesta. Dan panji-panjinya yang berkibar megah.
Di segenap penjuru jagat raya. Terus-menerus sepanjang pergantian hari, bulan,
dan tahun. Semuanya itu didorong semata-mata. Oleh kegandrunganku pada pribadi
luhur ini. Serta kerinduanku ‘tuk mendengarkan selalu. Sebutan sifat-sifatnya
yang serba agung.
Dan kiranya Allah berkenan melipatgandakan manfaatnya.
Bagi si pembicara ataupun pendengarnya. Sehingga keduanya’kan memasuki pintu
syafa’at. Dan menghirup sejuknya kenikmatan itu.
PASAL KE 5
Kini tiba saat penaku ini. Menggoreskan yang
digerakkan jari tanganku. Yang bisa terjangkau oleh pikiran. Tentang sifat
hamba yang sempurna dan dikasihi ini, serta perilakunya yang terluhur di antara
semua perilaku.
Dan di sinilah sepatutnya kutuliskan. Apa yang telah
sampai ke pengetahuanku. Tentang berita dan kisah insan tercinta ini. Agar
kalam dan keftas beroleh kemuliaan. Pendengaran dan penglihatan pun
berkesempatan, Bertamasya dalam taman-tamannya yang indah mempesona.
Telah sampai kepada kami. Dalam hadits-hadits yang
masyhur. Bahwa sesuatu yang mula peftama dicipta Allah. lalah nur yang
tersimpan dalam pribadi ini. Maka nur insan tercinta inilah. Makhluk pertama
muncul di alam semesta. Darinya bercabang seluruh wujud ini. Ciptaan demi
ciptaan. Yang baru datang ataupun yang sebelumnya.
Sebagai mana di riwayatkan Abdurrazzaq. Dengan
sanadnya yang sampai pada Jabir bin Abdullah Al-Anshari, semoga Allah meridhai
keduanya.
Bahwasanya ia pernah bertanya, “Demi ayah dan ibuku,
ya Rasulullah, Beri tahukanlah kepadaku tentang sesuatu. Yang diciptakan Allah
sebelum segalanya yang lain. Jawab beliau, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah,
Telah menciptakan nur nabimu, Muhammad, dari nur-Nya. Sebelum sesuatu yang
lain”
Dan telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Bahwasanya
Nabi SAW telah bersabda, “Aku adalah yang pertama di antara para nabi dalam
penciptaan. Namun yang terakhir dalam keiasulan...”
Banyak pula riwayat lain menyatakan. Bahwa beliaulah
yang pertama adanya. Dan termulia di antara mereka semua.
Dan manakala “kebahagiaan abadi” menampakkan.
Pengamatannya yang tersembunyi. Mengkhususkan manusia yang dipilihnya. Dengan
kekhususan yang sempurna. Dititipkannya nur benderang ini. Pada berbagai sulbi
dan rahim yang dimuliakan, di antara penghunijagat raya. Dan
berpindah-pindahlah ia, dari sulbiAdam, Nuh, dan lbrahim. Sehingga pada akhirnya.
Sampailah ia ke ayahandanya. Yang terpilih menerima kehormatan tiada terhingga:
Abdullah bin Abdul Muththalib yang bijak dan benribawa. Serta ibundanya,
Aminah, yang mulia. Yang selalu merasa aman dan tenteram. Meski di tengah apa
saja yang menggelisahkan.
Maka disambutlah ia oleh sutbi Abdullah. Dan
diteruskan kepada Aminah, istrinya. Yang merangkumnya dengan penuh kasih
sayang. Demi menjaga dan memelihara mutiara amat berharga. Dengan pertolongan
Allah, yang selalu mendampinginya.
la pun mengandungnya di bawah pengawasan Allah. Dengan
segala kemudahan dan keringanan. Tiada sedikit pun berat terasa. Ataupun sakit
diderita.
Bulan demi bulan berlalu. Sampai hampir tiba saatnya.
Kandungan itu lahir ke alam nyata. Agar luapan keutamaannya. Menggenangi
penghuni alam semesta. Tebaran keluhuranya. Melingkungi mereka semua.
PASAL KE 6
Sejak berpaut padanya mutiara indah terpelihara ini,
alam seluruhnya bergemilang riang gembira, di pagi hari maupun di kala senja,
dengan kian mendekatnya, saat terbit cahaya peliat penerang ini.
Demikian pula semua pandangan mata. Menatap bersama
menanti kelahirannya. Penuh kerinduan memungut permata baiduri tiada ternilai.
Binatang peliharaan Quraisy pun, semuanya bagaikan
menyeru dengan fasih kata-kata, mengumumkan berita nan sempurna. Setiap wanita
yang mengandung di tahun itu, niscaya ia melahirkan bayi lelaki. Hal itu semua
disebabkan, berkah kemuliaan imam pembawa bahagia ini.
Demikianlah bumi dan langit. Bergelimang wangi-wangian
riang gembira. Menanti lahirnya insan termulia. Di antara segenap penghuninya
ke alam nyata. Setelah tersimpan sekian lama. Dalam beberapa sulbi dan rahimt
berganti-ganti.
Maka berkenanlah Allah SWT. Menampakkan karunia
gemilang-Nya. Pada wujud semesta ini. Menghidangkan rahmah penghormatan dan
kemuliaan.
PASAL KE 7
Dan ketika hampir tiba saatnya. Kelahiran insan
tercinta ini. Gema ucapan selamat datang yang hangat. Berkumandang di langit
dan di bumi. Hujan kemurahan llahi tercurah. Atas penghuni alam dengan
lebatnya. Lidah malaikat bergemuruh. Mengumumkan kabar gembira.
Kuasa Allah menyingkap tabir rahasia tersembunyi.
Membuat nurnya terbit sempurna di alam nyata. Cahaya mengungguli segenap
cahaya.
Ketepatan-Nya pun terlaksana. Atas orang-orang
pilihan. Yang nikmat-Nya disempurnakan bagi mereka. Yang menunggu detik-detik
kelahirannya. Sebagai penghibur pribadinya yang beruntung. Dan ikut bergembira
mereguk nikmat berlimpih ini.
Maka hadirlah dengan taufik Allah. Sayyidah Maryam dan
Sayyidah Asiyah. Bersama keduanya datang mengiring. Sejumlah bidadari surga,
yang beroleh kemuliaan agung, Yang dibagi-bagikan oteh Ailah, atas mereka yang
dikehendaki.
Dan tibalah saat yang telah diatur Allah. Bagi
kelahiran ini. Maka menyingsinglah fajar keutamaanan cerah. Terang benderang
menjulang tinggi....
Dan lahirlah insan pemuji dan terpuji. Tunduk khusyu’
di hadapan Allah. Dengan segala penghormatan tulus dan sembah sujud.
MAHALUL QIYAM ...
No comments:
Post a Comment