MAULID AD DIBA’I
BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG MAULID DIBA
Pengarang Maulid Diba`i ini lahir ketika ayahnya sedang bepergian, dan
sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Beliau diasuh
oleh kakek dari ibunya yang bernama Syeikh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz
yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu. Meskipun
demikian, ketiadaan sosok ayah tidak menjadi penghalang bagi Ibn Diba` untuk
menuntut ilmu pada ulama-ulama besar Zabid.
Semenjak kecil, Ibn Diba` sudah sangat giat dalam menimba ilmu kepada
para ulama. Beliau belajar membaca Al Quran dibawah bimbingan Syeikh Nuruddin
Ali bin Abu Bakar lalu berpindah kepada mufti Zabid Syeikh Jamaluddin Muhammad
Atthoyyib yang masih terhitung pamannya sendiri. Setelah gurunya melihat bakat
kecerdasan istimewa yang dimiliki Ibn Diba`, maka sang Mufti menyuruhnya untuk
membaca Al Quran dari awal hingga akhir. Berkat kecerdasan dan ketekunan,
beliau sudah bisa menghafal Al Quran saat masih berusia sepuluh tahun. Tak lama
setelah beliau berhasil menghatamkan Al Quran, Ibn Diba' mendengar berita duka
bahwa ayahnya telah meninggal dunia di salah satu daerah di daratan India.
Beliau mendapatkan harta warisan sebanyak 8 Dinar.
Meninggalnya ayah beliau tak memadamkan motivasi Ibn Diba` dalam
menuntut ilmu, malah sebaliknya beliau makin semangat. Setelah peristiwa itu,
beliau memutuskan untuk belajar ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait)
Syatibiyah dan juga mempelajari ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl,
Fikih, dengan masih di bawah bimbingan pamannya. Atas arahan pamannya, beliau
disuruh untuk mengaji kitab Zubad (nadlom Fiqh madzhab Syafi`i) kepada Syeikh
Umar bin Muhammad Al Fata Al Asy`ari.
Kebiasaan dan Karya-karya Ibn Diba'
Beliau adalah salah seorang ulama ahli Hadis yang terkemuka pada abad
ke-9 H. Kehebatannya dalam bidang Hadis telah diakui oleh para ulama, sehingga
banyak yang datang kepadanya untuk meminta sanad Hadis dan mendalami ilmu
Hadis. Meskipun demikian, Hal itu tak membuatnya berbesar hati, tapi sebaliknya
dia makin tawaddlu` (rendah hati).
Ibn Diba' mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al Fatihah dan
menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat
Al Fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca
Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah
mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi, bahwa hari kiamat telah datang
lalu dia mendengar suara, “Wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah.” Lalu
orang-orang bertanya, “Kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” Kemudian dijawab,
"karena mereka sering membaca surat Al Fatihah."
Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti
beliau mempunyai banyak karangan baik di bidang Hadis ataupun Sejarah. Karyanya
yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad
saw. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i, Meskipun ada yang menisbatkan
Maulid ini kepada Ibn Jauzi, hanya saja pendapat ini sangat lemah.
Di antara buah karyanya yang lain: Qurrotul `Uyun yang membahas tentang
seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa
bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar
dan pengarang kitab. Ibn Diba'i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat,
tanggal 26 Rajab, 944 H.
Maulid Ad-Diba'i
Wahai purnama yang memiliki segala kesempurnaan
Dengan ucapan apa bisa kuungkapkan kemuliaanmu
Oleh:
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad
bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy
No comments:
Post a Comment